Hati-hati Ekspedisi ke Pulau Ini Bisa Tidak Pernah Kembali Tanpa Jejak

oleh -120 views
Pulau Envaitenet di Kenya

BERITA-Envaitenet terletak di Danau Rudolf, Kenya. Pulau kecil ini penuh misteri. Envaitenet dalam bahasa Aborigin berarti tidak bisa kembali.

Konon katanya, pulau ini dihuni monster dan orang yang ekspedisi ke pulau itu tidak pernah bisa kembali ke tempat asal. Karenanya Envaitenet disebut juga pulau kutukan. Kok bisa?

Dilansir dari East Coast Daily, pulau ini hanya beberapa kilometer panjangnya. Tidak ada yang berani tinggal di pulau itu, karena masyarakat sekitar pulau mempercayai bahwa Envaitenet tempat dikutuk.

Penduduk setempat mengatakan bahwa dulu banyak yang tinggal di pulau itu bertahun-tahun; mereka memancing, berburu, berdagang dengan kerabat mereka di daratan. Namun, warga pulau itu tiba-tiba berhenti datang ke daratan sama sekali, entah apa alasannya.

Kemudian beberapa pria dari desa tepi sungai datang ke pulau itu untuk melihat apa yang terjadi. Ketika mereka sampai di pulau itu, mereka tercengang: mereka melihat sebuah desa terpencil dengan gubuk-gubuk yang penuh dengan berbagai benda, dan ikan-ikan membusuk di dekat api yang padam.

Tidak ada tanda-tanda manusia di sana. Orang-orang tersebut kemudian meninggalkan pulau dengan sangat cepat, dan memutuskan untuk tidak mengadu nasib mereka. Akhirnya, tak seorang pun memberanikan diri untuk pergi ke sana lagi.

Pada 1935, penjelajah Inggris Vivina Fusch dikirim ke pulau tersebut bersama dua rekannya – M. Sheflis dan B. Dayson. Beberapa hari semuanya normal: setiap malam dalam waktu yang disepakati mereka memberi tanda lampu yang menyala yang berarti bahwa semuanya baik-baik saja. Namun, dalam dua minggu, sinyal tersebut berhenti.

Lama tidak ada kabar, beberapa anggota ekspedisi pergi ke pulau itu untuk mengecek keberadaan teman mereka, namun mereka dengan terkejut mencatat bahwa Sheflis dan Dayson sudah menghilang. Lebih dari itu, tidak ada jejak yang menunjukkan Sheflis dan Dayson pernah tinggal di pulau itu.

Penyebutan “pulau ajaib” dan orang-orang yang menghilang dari pulau itu kira-kira berasal dari tahun 1630. Saat masih adanya penduduk, warga di sana sering mendengan suara aneh berupa teriakan di pulau itu setiap bulan baru.

Teriakan tersebut kemudian berubah menjadi erangan yang berkepanjangan yang biasanya berlangsung dari beberapa menit sampai satu jam.

Seiring berjalannya waktu, warga desa berpikir bahwa pulau mereka dihuni oleh monster-monster kanibal mengerikan yang tidak serupa pada salah satu hewan yang mereka kenal. Monster seperti itu muncul tepat di hadapan orang itu pada saat yang paling tidak terduga, dan membuat penduduk asli berlari terbirit-birit.

Makhluk itu konon menjadi dalang di balik hilangnya anak-anak remaja yang berada di kampung di pulau tersebut.

Bayi-bayi yang lahir di pulau ini meninggal dengan cepat, karena bayi-bayi tersebut, meskipun lahir di iklim tropis, langsung dimumikan. Semua keajaiban ini tidak memungkinkan el molo (penduduk asli pulau) untuk hidup dengan tenang.

Akhirnya mereka terpaksa pindah dari pantai danau lebih dekat ke sebidang hutan. Pada akhir abad ke-20, setelah mendengar tentang pulau ajaib itu, dua ekspedisi pribadi pergi ke sana (dari Belanda dan Jerman), tetapi keduanya menghilang, tanpa meninggalkan jejak apa pun. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.