Kilas Balik Misteri Kematian Jamal Khashoggi

oleh -9 views
Jamal Khashoggi (Foto: Instagram/@jkhashoggi)

BERITA-Hari itu, Jamal Khashoggi memasuki kantor pemerintahan Saudi untuk mengambil dokumen keperluan pernikahannya dengan perempuan asal Turki tersebut. Hari berganti hari, namun pria 59 tahun tak kunjung keluar. Kabar kematiannya pun diumumkan oleh kepolisian Turki.

Baca: Detik-Detik Tamatnya Era Saudi Arabia

Riyadh awalnya membantah mengetahui informasi tentang keberadaan Khashoggi, namun secara mengejutkan mengklaim bahwa wartawan itu telah terbunuh dalam ‘operasi jahat’ di dalam gedung Konsulatnya di Turki.

Berita kematian Khashoggi ini kemudian memicu respons global. Berbagai laporan pemerintah Barat telah menuding bahwa Pangeran Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) telah menjadi dalang di balik pembunuhan keji itu.

Tapi, sampai detik ini di hari peringatan satu tahun kematiannya. Kasus pembunuhannya belum juga terungkap dan keadilan masih dibungkam dalam lingkar keluarga Kerajaan Saudi.

Lahir di Medina, Arab Saudi pada 1958, Jamal Khashoggi merupakan salah satu orang yang dekat dengan anggota keluarga Kerajaan. Ia memulai karirnya sebagai wartawan di Saudi Gazette berbahasa Inggris yang kerap meliput peristiwa besar seperti invasi Soviet ke Afghanistan.

Khashoggi kemudian bekerja sebagai penasihat media untuk Pangeran Turki bin Faisal –yang merupakan mantan kepala badan intelijen Arab Saudi dan mantan duta besar Saudi untuk Amerika Serikat. Di tahun-tahun terakhirnya, ia menjadi penasihat hak-hak perempuan dan kebebasan berbicara di Arab Saudi, demikian dikutip Al Jazeera.

Baca: Arab Saudi ‘Berencana Memata-matai Tunangan Jamal Khashoggi di Inggris’

Namun pada 2017, ia pergi ke pengasingan di Amerika karena diperintahkan untuk tutup mulut. Di sanalah semua bermula. Khashoggi mulai menulis kolom untuk harian ternama Washington Post. Ia vokal mengkritik kebijakan MBS. Dalam tulisan pertamanya untuk Post, Khashoggi mengecam penangkapan para aktor intelektual Saudi di bawah kepemimpinan MBS. Ia mengatakan bahwa “Arab Saudi tidak selalu represif. Namun saat ini tak tertahankan”. 

Jamal Khashoggi tidak pernah bermaksud menjadi pembangkang. Tulisannya menggambarkan fakta tentang Pangeran Mahkota Saudi yang kerap melakukan penganiayaan terhadap para kritikus yang disebut sebagai perusak rezim baru untuk memodernisasi negara.

Dia juga menyoroti agenda regional MBS yang menjabat sebagai menteri pertahanan dalam Perang Yaman. Ia mengecam segala bentuk upaya menekan demokrasi dan kebebasan berekspresi di seluruh wilayah Timur Tengah –yang sebagian besar disponsori oleh Arab Saudi dan Uni Emirate Arab.

“Ketakutan, intimidasi, penangkapan, dan mempermalukan para intelektual di hadapan publik, serta penangkapan pemimpin agama yang berani mengutarakan pendapat mereka,” seperti yang dikatakan Khashoggi dalam tulisan pertamanya September 2017, dikutip dari Washington Post.

New York Times pada Februari merilis laporan yang menyebutkan bahwa MBS dalam sebuah percakapan dengan ajudannya di tahun 2017 mengatakan akan menggunakan ‘peluru’ pada Khashoggi jika ia tidak kembali ke Saudi dan mengakhiri kritiknya terhadap pemerintahannya.

Keberanian Khashoggi dibungkam pada 2 Oktober oleh kekuasaan Kerajaan. Pada hari itu, Khashoggi yang berada di dalam gedung Konsulat dibunuh secara brutal oleh para agen nakal Saudi. Dalam laporan PBB disebutkan wartawan itu diseret, dicekik, kemudian dimutilasi oleh 11 orang yang dikirim dari Riyadh.

Rincian mengenai apa yang terjadi pada Khashoggi telah diungkap oleh media Turki dan penyelidikan oleh Pelapor Khusus PBB Agnes Callamard tentang eksekusi di luar proses hukum. Dalam catatan berdasarkan bukti audio intelijen menunjukkan, eksekutor mendiskusikan cara memotong dan mengangkut mayat Khashoggi. Beberapa menit sebelum Khashoggi memasuk gedung, salah satu anggota bahkan bertanya “apakah hewan kurban telah tiba?.

“Sendi akan dipisahkan. Ini bukan masalah. Tubuhnya berat. Pertama kali, aku harus memotongnya di lantai. Jika kita mengambil kantong plastik dan memotongnya menjadi beberapa bagian, itu akan selesai. Kami akan membungkus setiap bagian,” demikian percakapan dokter forensik terkenal Saudi Mohammed Tubaigy dengan perwira intelijen senior Maher Abdulaziz al-Mutreb.

Suara perlawanan Khashoggi terdengar dalam rekaman. Sekitar 24 menit usai Khashoggi tiba di Konsulat, intelijen Turki mendengar adanya suara suara gergaji dan robekan kantong plastik.

Aksi pembunuhan keji itu dilakukan oleh warga Saudi, termasuk orang dekat Pangeran Mahkota Mohammed bin Salman, Kepala Intelijen Mayor Jenderal Ahmed Asri, dan Saud al-Qahtani yang pernah menjadi tangan kanan Pangeran.

Sejumlah laporan dari pemerintahan Barat percaya MBS telah memerintahkan pembunuhan Khashoggi seperti laporan PBB dan CIA. Presiden Turki Erdogan bahkan menyerukan penyelidikan internasional untuk pembunuhan Khashoggi. Namun, semua itu dibantah oleh Kerajaan Saudi.

Pada November, Shaalan al-Shaalann yang merupakan wakil jaksa penunut umum mengatakan bahwa Khashoggi telah terbunuh usai ‘negoisasi’ kembali ke Kerajaan. Khashoggi disebut tewas karena suntikan mematikan. Tubuhnya kemudian dimutilasi dan dihilangkan dengan cairan kimia. Namun, hingga saat ini jasadnya tidak pernah ditemukan.

Pembunuhan Khashoggi telah mencuri perhatian global, dengan kelompok hak asasi manusia dan advokat kebebasan pers yang menyerukan MBS dan pemerintah Saudi untuk segera bertanggung jawab. 

Presiden Turki Erdogan bahkan menyebutnya ‘biadab’ dan ‘pembunuhan politik’. Negara besar seperti Jerman, Finland, dan Denmark bahkan sempat menangguhkan penjualan senjata militer kepada Arab Saudi dan meminta penyelidikan yang transparan atas kasus Khashoggi.

Baca: Kematian Jamal Khashoggi, Putra Mahkota Arab Saudi Buka Suara

Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga mengatakan bahwa kasus ini sangat mengerikan. Namun ia menyatakan tetap mendukung Riyadh dan berjanji untuk tetap menjual senjata militer bernilai miliaran dolar AS ke Saudi. Namun, Kongres AS tak menyetujui langkah Trump.

“Kami tidak mengharapkan kasus seperti ini akan terjadi di masa mendatang. Tapi kami percaya sejarah akan menunjukkan bahwa teman dan kolega kami yang hilang –Jamal Khashoggi– akan selalu berada di jalan kebenaran, di mana Mohammed bin Salman telah keliru bahwa ia bisa menang dengan gergaji tulang,” demikian potongan tulisan Washington Post dengan judul One Year Later, Our Murdered Friend Jamal Has Been Proved Right. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *