Kisah Jembatan Tua dan Sungai Kuno Ciasem, Ada Ular Lembu Mirip Kuda Nil

oleh -360 views
Sungai Ciasem (Foto: mapia.net)

BERITA-Jembatan Gantung Desa Muara Ciasem, adalah salah satu jembatan tua yang kondisinya sudah memprihatinkan dan sedikit menyeramkan jika di malam hari.

Jembatan gantung yang berlokasi diantara Desa Muara dan Tanjungtiga, Kecamatan Blanakan, Subang, Jawa Barat ini adalah satu-satunya jembatan penyeberangan yang ada di kedua desa pesisir ini.

Hingga akhir tahun 1980-an, kondisi jembatan gantung masih sangat menyeramkan karena masih banyak tumbuh pohon besar saat akan memasuki jembatan ini.

Sebelum listrik masuk desa sekitar tahun 1988, kondisi jembatan ini memang tampak menakutkan karena suasana yang gelap dan mencekam. Terlebih, baik di desa Muara dan Tanjungtiga sendiri masih belum seramai sekarang.

Tak ayal suasana horor ini banyak melahirkan kisah atau cerita-cerita misteri yang pernah dialami oleh beberapa warga desa.

Bahkan menurut para sesepuh desa, pernah ada seorang warga yang jatuh pingsan di tengah jembatan karena diganggu oleh penampakan mahluk halus saat menyebrang di jembatan gantung tersebut.

Saat itu, jembatan gantung desa muara menjadi tempat yang dianggap paling angker di sekitar dua desa ini. Cukup banyak para orang tua yang menceritakan berbagai penampakan dan juga gangguan-gangguan yang dialami oleh warga di sekitar tahun 1970-an.


Suasana yang masih sangat sepi dan juga gelap pekat mencekam, memang sangat mendukung terjadinya berbagai ‘penampakan’. Beberapa penampakan yang sering terjadi dan kerap mengganggu adalah adanya sosok wanita berambut panjang mengenakan baju putih.

Sosok wanita yang menurut sebagian warga disebut-sebut sebagai Kuntilanak ini sering menampakan dirinya sedang duduk uncang-uncang kaki di atas kayu melintang yang menjadi penyangga seling (tali baja) persis di bawah pohon randu besar yang saat itu masih ada.

Selain sosok kuntilanak, adalah suara orang sedang menjala ikan di sungai Ciasem yang mengalir persis di bawah jembatan. Tak hanya suara orang sedang menjala, terkadang warga juga dikagetkan oleh suara kejebur atau benda jatuh ke dalam air yang terdengar sangat keras.

Diketahui, sungai Ciasem adalah sungai purba yang sangat melegenda bagi masyarakat Kabupaten Subang, khususnya warga di pesisir utara. Sebagai salah satu sungai terbesar yang ada di wilayah Subang, sungai Ciasem adalah satu dari tiga sungai utama yang ada di wilayah Kabupaten Subang. Sungai ini berhulu di Curug Agung, Kecamatan Sagalaherang, sementara daerah hilirnya berawal di sekitar dusun Palabuhan, Kecamatan Ciasem, hingga bermuara di Teluk Ciasem persisnya di Desa Muara dan Tanjungtiga.

Menurut catatan dinas lingkungan hidup, ada sekitar 21 sungai dan 61 anak sungai yang menginduk ke Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciasem.

Selama ini, sebagian masyarakat Ciasem maupun warga desa Muara mengenal adanya mitos siluman buaya, urang ayu atau pun ular lembu yang konon menyerupai kuda nil.

Dibanding dua sungai utama lainnya yaitu Cipunagara dan Kali Cilamaya, sungai Ciasem dan puluhan anak sungainya secara keseluruhan berada di wilayah Subang. Sungai ini memiliki panjang sekitar 60 KM hingga ke pesisir utara.

Tak jarang pula mereka mengaku melihat orang sedang memancing sambil menaiki perahu sambil membawa lampu cempor (lampu minyak tanah kecil).

Pada awal tahun 1980, seorang warga mengaku pernah diikuti suara beberapa ekor anak ayam (pitik bhs Jawa) saat ia hendak menyeberang pulang setelah menonton kesenian Dombret di pelelangan ikan Desa Muara.

Namun saat sampai ke seberang persisnya di bawah pohon randu, suara anak ayam itu hilang lenyap begitu saja.

Dari semua penampakan yang ada, suara wanita yang meminta tambangan atau bayaran kepada orang yang menyeberang saat tengah malam yang disebut-sebut paling menakutkan.

Suara ini konon sering muncul dari sebuah gubuk yang saat siang ditempati oleh pemilik jembatan untuk memungut tambangan (bayaran nyebrang).

Gubuk ini berada di pintu masuk jembatan di bawah sebatang pohon seri (Kersen), yang persisnya berada di sebelah barat jembatan.

Saat itu, suasana memang masih sangat mendukung bagi para penghuni dunia lain untuk melakukan penampakan yang kadang menurut manusia dianggap sebagai sebuah gangguan.

Setelah listrik masuk desa dan suasana semakin ramai juga terang, secara drastis penampakan ini sangat jarang dan bahkan hampir tak pernah terjadi lagi.

Menurut beberapa ahli Supranatural, makhluk-makhluk penghuni dunia gaib akan menampakan diri sesuai tempat dan mitos yang berlaku di suatu daerah. Di masa kini, penampakan-penampakan juga masih tetap ada namun kita tidak menyadarinya.

Penampakan makhluk halus tetap real dan sering kita jumpai di berbagai tempat. Seiring suasana yang semakin ramai, tak jarang kita berpapasan dengan orang asing yang sebenarnya adalah mahluk halus.

Berbeda dengan saat itu, saat ini sangat jarang seorang penghuni kampung begitu mengenal dan hafal semua penduduk kampung atau desanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.