Menjadi Penulis di Era Revolusi Industri 4.0

oleh -874 views

“Berdirilah di atas kertas, berjalanlah dengan pena, dan menyelamlah ke dalam lautan kata. Kelak kau akan terkejut melihat untaian huruf yang mampu bercerita”

Penulis awali tulisan ini dengan untaian motivasi di atas. Tak terasa, menjadi blogger, dunia yang sebagian orang mungkin terkesan sebelah mata ternyata menyenangkan, hal yang membuat siapapun tertantang, hal yang membuat siapapun ingin banyak membaca dan menulis, dan hal yang membuat siapapun terus berpikir kreatif dan produktif.

Aktivitas menulis dan membaca lambat laun layaknya makanan pokok. Rasanya kalau tidak membaca dan menulis, hari-hari serasa ada yang kurang; kurang bermanfaat, dan kurang bisa memberi manfaat. Dan mungkin, ini juga dirasakan para penulis lain.

Kemudian 2005 saya mengenal platform Blogspot, sebuah media tulis online di bawah naungan Google itu menjadikan saya lebih produktif lagi dalam membaca dan menulis. Awalnya blog hanya dijadikan sebagai media untuk menyimpan ilmu-ilmu yang telah saya dapat dari bangku kuliah dan liputan sebagai jurnalis. Namun beberapa tahun kemudian, serasa ada bisikan halus yang memengaruhi untuk menyebarkan ilmu yang telah lama mengendap dalam “tanah” draft blog.
“Mengapa catatan-catatanmu itu tidak dipublikasikan saja ? Mengapa ia hanya bisa tersimpan dalam draftmu ? Apakah kamu tidak ingin memberi manfaat kepada orang lain ?”

Akhirnya setelah diguyur hujanan pertanyaan dari “bisikan halus”, kumpulan tulisan yang telah mengendap bertahun-tahun lamanya itu kemudian diperlakukan layaknya putri raja; antara lain editing, penambahan kata demi kata, dan penambahan kalimat demi kalimat. Hingga setelah semuanya siap, “sang putri raja” itupun keluar dari dalam istana. (dipublikasikan maksudnya)

1. Mengapa Harus Menulis ?
Di dunia ini ada banyak orang yang terperangkap dalam rasa jenuh dan bosan, untuk melepaskan semua kejenuhan dan kebosanan itu, sebagian orang pergi ke tempat hiburan, bermain game, ataupun mencari kesenangan lain. Sementara, menulis adalah obat bagi rasa bosan dan kejenuhan.

Karena menulis adalah sebuah cara untuk membebaskan jiwa, membebaskan pikiran, dan membebaskan imajinasi. Dengan menulis pula, bisa tersenyum, berpikir, merenung, sedih, menangis, bahkan tertawa. Dan pasti hal itupun dirasakan para penulis lain. 

Mengapa harus menulis ? Karena dengan menulis hari-hari kita akan penuh dengan ide dan gagasan, dengan menulis ingatan kita tak akan berkurang, dengan menulis kita dapat mendokumentasikan peristiwa dan retorika, dengan menulis nama kita kan terabadikan, dan dengan menulis pahala kita kan terus mengalir. Sebagaimana para cendikiawan muslim seperti Al-Ghazali, Al-Khawarizmi, Al-Kindi, Ibnu Sina, dan para ilmuan muslim lainnya.

Teringat ucapan Syekh Badiuzzaman Said Nursi, seorang tokoh pembaharu zaman sekaligus sang pelopor dari negara Turki. Beliau menuturkan:

“Tulisanku tidak lain hanya mengharap rahmat-Nya, bahwa Dia akan menerima ucapan tulisanku sebagai ganti diriku ketika maut menjemput. Karena umurku yang sangat singkat ini takkan mampu menghapus dosa-dosaku yang sangat banyak. Maka tulisan yang sifatnya permanen diharapkan dapat menghapusnya.” Syekh Badiuzzaman Said Nursi – Kitab Al-Lama’at/248,-

2. Mengapa Harus Lewat Blog ?
Pertanyaan itu yang pasti muncul dibenak pembaca. “Mengapa harus lewat blog ? Mengapa tidak menerbitkan buku, atau menerbitkannya pada majalah dan koran saja ?” Jawabannya sederhana,  “Karena kita berada di era Revolusi Industri 4.0.”

– Apa Itu Revolusi Industri 4.0 ?
Revolusi Industri 4.0 atau biasa disingkat RI4 adalah era dimana data yang biasanya disimpan secara fisik bermigrasi ke data digital. Data yang telah dibuat tersebut kemudian diprogram dengan bahasa pemrograman yang berbasis AI atau Artificial Intelligence (kecerdasan buatan) sehingga lebih efektif, efisien dan manageable (mudah dikelola). 

“Lho ko, sudah langsung revolusi keempat. Kapan revolusi pertama, kedua, dan ketiganya ? ” Sebenarnya ketiga revolusi itu sudah terlewat sejak lama, hanya saja karena media massa belum sehebat sekarang, revolusi pertama sampai ketiga tak pernah kita kenali.

  • Revolusi Industri 1.0 atau RI1 dimulai sejak 1750-1850, pada era ini ditandai dengan sistem produksi menggunakan tenaga air dan uap.
  • Revolusi Industri 2.0 atau RI2 dimulai sejak 1851-1970, pada era ini ditandai dengan berkembangnya sistem komunikasi dan transportasi seperti penemuan pesawat telepon, pesawat terbang, komputer, dan sebagainya.
  • Revolusi Industri 3.0 atau RI3 dimulai sejak 1970 – awal abad 20an. Pada era ini ditandai dengan munculnya teknologi digital seperti handphone dan internet.
  • Revolusi Industri 4.0 atau RI4 dimulai sejak 2015 – sekarang. Pada era ini ditandai dengan pesatnya sistem Cyber Physical atau saat dimana semua orang harus mulai menyentuh dunia virtual yang berbasis online (internet).

Ada banyak istilah mengenai Revolusi Industri 4.0 ini, yang lebih sederhana dikenal sebagai era digital, dunia maya, virtual, online, daring (dalam jaringan), atau sejumlah akronim lain yang tersemat di dalamnya. Meskipun banyak istilah, namun tetap mengacu pada makna yang sama; MIGRASI.

Migrasi disini bukan hanya memindahkan data fisik ke data digital saja, tapi juga orang-orangnya pun ikut berpindah ke dunia virtual. Itulah kenapa hari ini kita mengenal istilah netizen atau warganet.  Adanya istilah netizen (warganet) adalah bukti bahwa kita tidak hanya hidup dalam ekosistem kehidupan nyata, tapi juga berkecimpung dalam dunia virtual.

Di samping itu, era ini pun disebut era milenial dimana penduduk asli era ini adalah kaum generasi Z yang lahir tahun 1995-2012. Sementara mereka yang lahir sebelum rentan tahun tersebut, dinamakan sebagai “Imigran” atau generasi X (yang lahir tahun 1966-1976) dan generasi Y (yang lahir tahun 1977-1994). Menyedihkan sekali bukan ? Kita hanya sebatas imigran di zaman ini, hehe.

Istilah lain yang lebih sederhana dari Revolusi Industri 4.0 ini yaitu bisa dibilang masa sekarang adalah masa dimana semuanya serba online. Dimulai dari berbelanja, menonton, bermain, belajar, pesan makanan, bahkan pesan ojekpun sudah berbasis online. Hebat !

Dalam menghadapi era teknologi berbasis online ini, tentunya ada banyak PR besar yang harus dikerjakan bersama agar bisa mengikuti perkembangan zaman. Baik itu sistem pemerintahannya (yang saat ini sebagian besar sudah berbasis online), pendidikannya, setiap individunya, dan khususnya sebagai penulis.

Menjadi penulis di era Revolusi Industri 4.0 atau era digital tidaklah sulit dan juga tidak mudah. “Lah, ko tidak sulit – tidak mudah ? Yang benar yang mana ?” Maksudnya tidak sulit karena media menulis sangatlah mudah dan murah, contohnya seperti platfrom Blogspot dan WordPress yang merupakan media tulis gratisan yang disediakan Google untuk para penulis diseluruh dunia.

Tidak mudah karena menulis dengan kualitas baik itu sulit, serta harus berkompetisi dengan tulisan orang lain dan juga harus bersaing dengan web-web raksasa. Perlu strategi khusus nan jitu dalam menulis dan memahami media digital. Diantara strategi menulis dalam dunia digital yang biasa saya lakukan adalah pengoptimalan SEO (Search Engine Optimation)  dan Research Keyword (penargetan kata kunci). Dengan begitu, tulisan kita dapat bersaing dengan web-web besar.

Kembali ke pertanyaan, “Mengapa harus menulis lewat blog ?” Karena jika kita sebagai penyedia jasa (informasi, telekomunikasi atau transfortasi), ada 4 poin penting yang harus diperhatikan di era Revolusi Industri 4.0 ini, yaitu :

  1. Faster (lebih cepat). Era ini adalah era kecepatan. Karena setiap orang memiliki kesempatan yang sama dalam berkarya, maka mereka yang lebih cepat mengupdate informasi, merekalah pemenangnya.
  2. Simpler (lebih mudah). Era ini adalah era kemudahan. Orang-orang di zaman ini tidak menyenangi hal-hal yang rumit dan menyulitkan. Maka penyedia jasa yang memiliki sistem yang mudah dan sederhana, akan lebih diminati.
  3. Cheaper (lebih murah). Era ini adalah era kemurahan. Orang-orang di zaman ini tidak suka yang eksklusifitas. Produsen yang menawarkan produk yang lebih mahal daripada produsen lain yang lebih murah, akan kalah oleh produsen yang lebih murah. Contoh kecilnya saja barang buatan China. Meskipun China memproduksi barang-barang tiruan dan berkualitas rendah, namun China telah membuktikan diri sebagai kekuatan ekonomi terbesar. Karena apa ? karena mereka menargetkan satu kata kunci; “Cheaper”.
  4. Accessible (mudah diakses). Era ini adalah era kemudahan dalam mengakses, dan internet adalah jalan mengakses terbaik. Apapun yang kita perlukan cukup dengan membuka internet. Jika kita ingin melihat video, cukup mengakses Youtube. Tidak perlu repot-repot ke pasar untuk membeli VCD. Jika kita ingin membaca buku, cukup membuka Google Book atau Google Scholar bagi yang suka buku akademis.

4 poin diatas dapat dengan mudah bahwa tulisan yang sudah dicetak seperti buku, koran, dan majalah. Tapi sekarang tulisan yang mudah dibaca adalah tulisan yang mudah diakses.

Orang-orang di zaman ini lebih banyak menghabiskan waktunya pada daring (dalam jaringan) daripada luring (luar jaringan). Oleh karena itu, menggunakan media online dalam menulis akan lebih cepat terbaca daripada buku dan sejenisnya. Maka berbahagialah dan banggalah jika hari ini kita menjadi penulis di era Revolusi Industri 4.0.

Penulis: Dian Arief Setiawan, Wartawan tinggal di Cirebon

(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.