Sultan Hamid II Bukan Pengkhianat Bangsa

oleh -1.318 views
Konferensi KTN di Kaliurang, dari kiri Sultan Hamid II (Pontianak), Sri Sultan Hamengku Buwono IX serta KGPAA Paku Alam VIII foto/http://siks.bpadjogja.info

Tadi malam, 14 Juni 2020, kami melakukan konferensi pers antara Yayasan Sultan Hamid II bersama tokoh-tokoh Kalimantan Barat. Tiga sampai dengan empat tahun belakangan, kami, Yayasan Sultan Hamid II memang sibuk dan “ngotot” mengajukan pengusulan calon pahlawan nasional atas nama Sultan Hamid II dari Pontianak, Kalimantan Barat. Secara resmi, pengajuan dari syarat dan ketentuan oleh Undang-undang Kepahlawanan kami penuhi dan ajukan di Kementerian Sosial Republik Indonesia. Selama beberapa tahun itu pula seakan cukup banyak halang rintang. Namun, alhasil tetap tertolak dengan banyak macam alasan tak mendasar. Di sisi lain, berita acara pengajuan ini memenuhi syarat secara administratif. Tertolak, bukan berarti tak kuat. Bukti kami banyak, dokumen pendukungpun kami bawa dan serahkan ke Kementerian sebanyak dua troli. Tapi, ada saja alasan mereka untuk menolak kami. Alasan terakhir dari kementerian bahkan absurd dan tak masuk akal. Jawaban penolakan bersifat substantif, sedangkan kewenangan mereka adalah administratif.

Dalam artikel lalu yang sempat saya tulis, hasil perbedaan pendapat bersama Anhar Gonggong, menuai reaksi cukup keras dari masyarakat Kalimantan Barat. Bagaimana tidak, unsur subyektifitas dalam menilai dan menelaah sejarah, menjadi pendasaran salah satu sejarawan senior tersebut. Kala itu Anhar menggarisbawahi jangan sampai ada cacat, jangan sampai ada cela. Menurut saya itu tak mungkin. Tak ada manusia sempurna. Kalau dikorek semua pasti ada salah. Ini soal sudut pandang. Kami punya argumentasi. Tapi sayang, Anhar berkeras hati tak menerima argumentasi kami. Kami punya dua pandangan dengan bentangan kutub yang berbeda.

Anhar berdiri pada perspektif lama, dia tetap katakan Sultan Hamid II adalah antek belanda, Sultan Hamid II adalah gembong pemberontakan APRA bersama Westerling tahun 1950. Padahal kami sudah bantah tuntas semua itu di dalam semua dokumen kami, Sultan Hamid II tidak bersalah dan bukan pemberontak. Tak ubahnya Anhar, selanjutnya Hendropriyono memanas-manasi orang Pontianak, memantik amarah di Kalimantan Barat. Video yang berdurasi enam menit sembilan belas detik itu, dalam dua sampai dengan tiga hari sudah membuat gaduh satu provinsi, bahkan satu negara. Judul video tersebut, menyinggung pula tentang pribumi berketurunan arab. Saya cek tadi malam sudah diubah oleh admin channel tersebut menjadi “PENGKHIANAT, Kok Mau Diangkat Jadi PAHLAWAN? | Part 1 A.M. Hendropriyono”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.