Sultan Hamid II Bukan Pengkhianat Bangsa

oleh -1.318 views
Konferensi KTN di Kaliurang, dari kiri Sultan Hamid II (Pontianak), Sri Sultan Hamengku Buwono IX serta KGPAA Paku Alam VIII foto/http://siks.bpadjogja.info

Ada beberapa point pernyataan Hendropriyono dalam video tersebut yang dapat kita uji bersama, kebenarannya. Yang pertama, dia menyatakan ada upaya mempolitisasi sejarah bangsa. Bahwa selama dua puluh tahun lebih kami berjuang mengungkap kebenaran, tidak ada bukti satupun pernyataan itu benar. Sosialisasi terus kami lakukan, mulai dari nol data di mesin pencarian (search engine) popular bernama Google itu tentang Sultan Hamid II dan Lambang Negara Garuda Pancasila. Hingga hari ini penuh referensi kami tumpahkan segala data, artikel, jurnal, hasil penelitian, dan pemberitaan tentang Sultan Hamid II dan Lambang Negara tersebut. Kami jelas membentangkan realitas sejarah yang sebenar-benarnya, meluruskan kawat yang bengkok, menghubungkan mata rantai yang sudah berpuluh tahun terputus. Kemudian menghadirkan sudut pandang (perspektif) baru dalam membaca sejarah. Semua itu, karena ada pengaburan, pemburaman, serta penghapusan nalar dan ingatan anak bangsa terhadap sejarah beradaban kita. Kami ingin meninggalkan legacy yang baik dan benar. Berbuat agar bermanfaat untuk generasi muda dan selanjutnya. Agar generasi selanjutnya ingat secara utuh sejarah bangsanya.

Hendropriyono juga menyebut Sultan Hamid II bukan pejuang bangsa Indonesia. Hal ini kami tulis secara mendalam, di dalam buku yang kami tulis hasil dari penelitian masing-masing yang kami gabungkan bersama. Kami menulis buku ini bertiga bersama saya, Nur Iskandar, dan Turiman Faturrahman Nur. Buku ini berjudul “Sultan Hamid II, Sang Perancang Lambang Negara Elang Rajawali-Garuda Pancasila”. Ketika buku ini terbit dan ditunjukkan kepada masyarakat, apresiasi tinggi pula diberikan oleh rakyat Kalimantan Barat atas upaya menguak kembali “akar terendam” ini. Banyak masyarakat hadir kala itu, 12 Juli 2013, tepat satu abad Sultan Hamid II. Tokoh nasional seperti Dr. Oesman Sapta Odang hadir memberikan pidato terbaiknya kala launching buku tersebut. Gubernur Kalimantan Barat, Walikota Pontianak, Bupati, Tokoh politik, budayawan, sosiolog, dosen, para pakar, petani, nelayan, buruh, dan lainnya hadir ingin melihat dan mendengar tentang sosok pahlawan dari wilayahnya. Dalam buku itu kami tuangkan tentang banyak hal, utamanya adalah fakta tentang perjuangannya menghadirkan kedaulatan penuh di Indonesia.

Sultan Hamid II adalah salah satu aktor utama dalam perjuangan kemerdekaan bangsa. Sebagaimana disampaikan oleh Prof. RZ Leirissa, dalam buku “Kekuatan Ketiga Dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia”, bahwa negara ini merdeka dan berdaulat tidak hanya didapatkan dari perang gerilya, melainkan pula melalui jalur diplomasi bangsa. Diplomasi ini berhasil dilakukan karena adanya Sultan Hamid II yang bertandatangan di atas kertas penyerahan dan pengakuan kedaulatan di Konferensi Meja Bundar (KMB), 27 Desember 1949. Sultan Hamid II jelas seorang pejuang. Kita ketahui bersama pada 17 Agustus 1945, ketika diproklamirkan kemerdekaan Indonesia, Negara tidak memiliki kedaulatan penuh. Ketika Jepang tersudut mundur, kemudian Belanda bersama sekutu kembali ke kepulauan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.