Ungkap Kultur Investor Tiongkok, Kepala BKPM: Investor Tiongkok di Depan Gampang, tapi di Belakang Kadang-kadang bikin Kita Pusing

oleh -43 views
Bahlil Lahadalia, Kepala BKPM. (Foto: Tangkapan layar BKPM TV YouTube)

JAKARTA-Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia membeberkan plus minus kultur investor Jepang dan Tiongkok saat berinvestasi di Indonesia. Bahlil mengungkapkan, investor Jepang  sangat teliti, cermat, dan hati-hati dalam memulai proyek, apalagi proyek-proyek berskala besar.

“Mereka  punya asas kehati-hatian yang tinggi sekali. Mereka kan sudah sangat berpengalaman menanamkan modalnya di Indonesia,” tutur Bahlil dalam pertemuan virtual dengan para pemimpin redaksi media massa di Jakarta, Rabu (30/12/2020).

Karena ketelitian dan kehati-hatiannya itu, menurut Bahlil, ada kesan investor Jepang membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mengeksekusi sebuah proyek.

“Padahal sebenarnya  Jepang ini awalnya saja yang harus berdiskusi panjang. Jadi, harus menyiapkan kajian panjang, siapkan A,B,C,D. Itu yang saya rasakan di BKPM,” ujar dia.

Begitu seluruh perizinan selesai,  kata Bahlil, investor Jepang akan langsung “berlari kencang” alias merealisasikan proyeknya secara cepat, lancar, dan tepat waktu.

“Kalau perizinan sudah selesai, yang ribet-ribet selesai, mereka langsung jalan,” ucap Bahlil Lahadalia. Kultur tersebut, kata Bahlil, berbeda dengan investor Tiongkok.

“Kalau investor Tiongkok punya ini barang, di depan gampang, tapi di belakang kadang-kadang bikin kita pusing sendiri. Jadi, kebalikannya,” ujar dia. Meski demikian, bukan berarti investor Tiongkok memiliki kultur yang buruk.

“Bukan berarti nggak bagus. Bagus aja, contohnya saat membangun tambang. Kalau menunggu hingga semua izin dan tetek-bengeknya selesai, sampai ayam tumbuh gigi pun itu tambang nggak akan selesai. Nggak bakal selesai-selesai itu smelter,”  papar dia.

Dimonopoli Satu Negara Bahlil Lahadalia menjelaskan, kultur investor Jepang dan Tiongkok memiliki plus minus masing-masing, tinggal bagaimana pemerintah Indonesia atau investor domestik yang bermitra dengan mereka menyiasatinya.

“Dua-duanya kita bentrokkan, tinggal kita adu aja,” tandas dia.

Kepala BKPM menegaskan, dalam urusan investasi, Indonesia tidak boleh dikuasai atau bergantung pada satu negara.

“Bagi saya, negara ini tidak boleh dikuasai atau dimonopoli oleh satu negara dalam hal investasi. Kita kasih saja ruang yang sama, silakan memanfaatkan ruang itu dalam kerangka aturan yang baik dan benar,” tandas dia.

Berdasarkan data BKPM, pada Januari-September 2020, realisasi penanaman modal asing (PMA) asal Tiongkok berada di urutan ke-2 dengan nilai investasi US$ 3,5 miliar.

Sedangkan realisasi PMA asal Jepang berada di urutan ke-4 dengan nilai investasi US$ 2,1 miliar. Urutan ke-1, ke-3, dan ke-5 masing-masing ditempati Singapura (US$ 7,2 miliar), Hong Kong (US$ 2,5 miliar), dan Korea Selatan (US$ 1,1 miliar).

Sementara itu, tahun lalu (Januari-Desember 2019), Tongkok berada di urutan ke-2 dengan nilai investasi US$ 4,7 miliar. Adapun Jepang berada di urutan ke-3 dengan nilai investasi US$ 4,3 miliar. Urutan ke-1 ditempati Singapura senilai US$ 6,5 miliar. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.